PENTINGNYA
KESEHATAN JIWA BAGI GENERASI Z
PENDAHULUAN
Kesehatan jiwa
atau kesehatan mental adalah tingkatan kesejahteraan psikologis atau ketiadaan
gangguan jiwa. Kesehatan jiwa terdiri dari beberapa jenis kondisi yang secara
umum dikategorikan dalam kondisi sehat, gangguan kecemasan, stres, dan depresi. Banyak orang berpikir
bahwa sehat hanya berkaitan dengan aspek fisik. Padahal, ada aspek lain yang
juga perlu mendapat perhatian, yaitu aspek kesehatan mental. Setiap individu dapat
mengalami gangguan mental. Apabila kesehatan mentalnya terganggu, ia akan
mengalami gangguan suasana hati, kemampuan berpikirnya menurun, hingga
tindakannya dapat mengarah pada perilaku yang buruk. Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2013 menunjukkan data prevalensi gangguan mental pada usia 15 tahun
ke atas mencapai 6 persen dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 14 juta
orang. Kemudian
gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk atau
sekitar 400.000 orang. Selain
itu, survei yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa
setiap detik terdapat satu orang yang melakukan bunuh diri di seluruh dunia.
Bahkan, bunuh diri menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada usia 15-29
tahun. Di
Indonesia, permasalahan kesehatan mental ini masih terganjal dengan stigma.
Masyarakat masih menganggap negatif tentang persoalan ini. Bahkan, banyak di
antaranya yang justru tidak peduli dengan mental illness atau mental health. Akibatnya, banyak
penderita yang takut dan memilih untuk tidak menceritakan gangguan mental yang
dialaminya.
ISI
DAN PEMBAHASAN
ada beberapa tanda
umum yang ditunjukkan oleh seseorang apabila mengalami gangguan mental. Tanda-tanda seseorang
mengalami gejala gangguan mental
ditandai dengan mengalami rasa cemas yang berlebihan. Hal
ini akan mengakibatkan ia susah tidur dan mudah lelah, sehingga daya
konsentrasinya pun menurun. Menurunnya
konsentrasi ini akan diikuti dengan melemahnya motivasi dan semangat. Ia
menjadi tidak bergairah, bahkan cenderung malas untuk melakukan aktivitas
sehari-hari. Ia
juga akan menunjukkan perubahan karakter dan kepribadian. Hal ini meliputi
perubahan tingkah laku dan juga perubahan emosi yang ekstrem. Perubahan ini dapat
membuatnya tidak acuh pada lingkungan sosial. Bahkan, cenderung akan menarik
diri dari interaksi sosial. Di
sisi lain, seseorang yang terlalu aktif dan ceria juga dapat menunjukkan tanda
bahwa ia sedang mengalami gangguan mental. Gangguan mental dapat
membuat seseorang berpikir aneh. Tak heran apabila mereka sampai merasa melihat
sesuatu yang tidak nyata. Ini adalah salah satu tanda yang berbahaya. Tanda lainnya adalah self
center. Ini adalah keadaan saat seseorang hanya melihat segala sesuatu dari
perspektifnya. Ini
terjadi biasanya pada orang yang tidak pernah diperhatikan, tidak pernah
dilihat, dan tidak pernah didengar.
Tanda
yang paling umum terjadi adalah minder. Rasa inilah yang paling sering muncul
pada seseorang dengan gangguan mental apapun, entah itu depresi, anxiety, atau
hal lannya. Cara
mengelola gangguan mental yaitu dengan memikirkan hal
yang membuat bahagia. Hal tersebut harus sederhana dan konkret, bukan hal yang
abstrak. Misalnya,
bahagia ketika chat dibalas atau bahagia saat menang main game. Adanya rasa
bahagia ini akan memunculkan harapan untuk bangkit dan semangat. Langkah berikutnya adalah
keep learning and take notice, harus
terus belajar dan
jangan tutup diri untuk belajar dan dari lingkungan. Treatment dan cara
mencegahnya pun cukup mudah namun kekuatan
terbesarnya yaitu dengan dibantu oleh orang
terdekat seperti mengerti keadaan mereka
itu sudah cukup karena tiap orang punya bibit
kekuatan yang terkadang membutuhkan orang lain. Dan yang harus dilakukan agar tidak mengalami gangguan
mental terutama pada generasi Z atau generasi milenial
dimasa sekarang yaitu melakukan aktivitas fisik atau olahraga ringan, seperti
lari kecil atau lompat di tempat, dapat dilakukan selama menjalani karantina di
rumah. Dengan melakukan aktivitas fisik, tubuh akan memproduksi hormon endorfin
yang dapat meredakan stres, mengurangi rasa khawatir, dan memperbaiki mood. Latihan
peregangan dan pernapasan juga dapat membantu Anda untuk menenangkan diri.
Jangan lupa untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi untuk meningkatkan
sistem imun. Selanjutnya dengan mengonsumsi makanan bergizi yang mengandung
protein, lemak sehat, karbohidrat, vitamin, mineral, dan serat. Beragam nutrisi
tersebut dapat diperoleh dari nasi dan cereal, buah-buahan, sayuran, makanan
laut, daging, kacang-kacangan, serta susu. Bukan hanya untuk menjaga kesehatan
tubuh, asupan nutrisi yang cukup juga dapat menjaga kesehatan mental, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu opsi seperti menghentikan
kebiasaan buruk juga dapat dilakukan seperti kebiasaan merokok dan mengonsumsi
minuman beralkohol dapat mengganggu kesehatan fisik maupun mental Anda. Kebiasaan
buruk yang juga perlu dihentikan adalah kurang beristirahat atau sering
begadang. Jika kurang istirahat, Anda akan lebih mudah mengalami kecemasan dan
mood Anda pun akan lebih tidak stabil. Hal-hal yang bermanfaat untuk mengisi waktu
luang di masa pandemi dapat dilakukan seperti membuat rutinitas sendiri selama
menjalani karantina di rumah, Melakukan hobi atau aktivitas yang disukai,
misalnya memasak, membaca buku, atau menonton film. Selain meningkatkan
produktivitas, kegiatan tersebut juga dapat menghilangkan rasa jenuh. Merebaknya
virus corona pun menyebabkann informasi tidak valid banyak bermunculan maka kita
harus lebih bijak memilah informasi dengan membatasi waktu Anda untuk menonton,
membaca, atau mendengar berita mengenai pandemi, baik dari televisi, media
cetak, maupun media sosial untuk mengurangi rasa cemas. Meski begitu, jangan
menutup diri sepenuhnya dari informasi yang penting. Pilah informasi yang Anda
terima secara kritis dan bijak. Dapatkan informasi mengenai pandemi virus
Corona hanya dari sumber yang terpercaya. Dan yang terakhir. menjaga komunikasi
dengan keluarga dan sahabat dapat dilakukan selama karantina sperti meluangkan
waktu untuk berkomunikasi dengan keluarga, sahabat, teman, dan rekan kerja,
baik melalui pesan singkat, telepon, atau video call untuk menceritakan
kekhawatiran dan kecemasan yang Anda rasakan. Dengan cara ini, tekanan yang
Anda rasakan dapat berkurang sehingga Anda bisa lebih tenang.
KESIMPULAN
Bila
Anda memang memiliki gangguan mental, konsumsilah obat-obatan yang telah
diresepkan dokter secara rutin. Bila perlu, periksakan diri Anda ke dokter
secara berkala agar dokter dapat memantau perkembangan kondisi Anda. Rasa takut
dan cemas memang normal dirasakan selama masa pandemi seperti ini. Namun,
cobalah untuk selalu berpikir positif dan bersyukur. Jika stres dan ketakutan
yang Anda alami terasa sangat berat, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog
atau psikiater.
Komentar
Posting Komentar